Anak Jaman Sekarang Kurang Menghargai Musik Indonesia

Minggu, 08 April 2018, Artikel

Mungkin buat yang udah jauh lebih pengalaman di dunia musik, judul tersebut bikin telinga gatal. Buat teman-teman jurnalis musik yang juga lebih pengalaman mungkin juga demikian. Tapi apa salahnya coba mengajukan judul begitu, kalau kenyataan yang saya dapat pun memang demikian.

 

Saya bukan musisi, bukan pula "pure" jurnalis musik (gak dikasih jatah sama editor dulu, sad), tapi saya penikmat musik dan kalau di musik-musik lokal, terutama musik-musik keras saya sering mengamatinya. Macam band-band seperti Thirteen, Sweet As Revenge, Killing Me Inside, yang begitu-begitu lah yang saya dengar dulu. Tapi juga berkembang ke musik-musik indie dan elektronik, mulai dari HMGNC (dulu Homogenic), The S.I.G.I.T., sampai yang kekinian, Barasuara, juga didengarkan dan ditonton live-nya.

 

Saya inget dulu waktu jamannya kaset dan CD, saya terbilang rajin beli pakai uang ibu atau ayah saya. Ah kalau ayah saya sih cuma kaset Petualangan Sherina sih, yang dibeli di Aquarius Mahakam (almarhum nih tokonya). Yah, sisanya saya beli pakai uang ibu saya, mulai dari album pertama Goodnight Electric, The Upstairs yang EnergyV2.05-nya The Adams, dan lain-lain saya beli aja. Kenapa? Toh memang saya penasaran dan saya suka.

 

Mungkin di era 2004-2007 saya sering banget beli kaset atau CD album musik Indonesia, seperti yang saya sebut di atas tadi. Ya memang lebih ke musik-musik "pinggirannya" memang. Tapi ada juga kok yang Barat-barat bahkan Jepang. Kenapa saya beli kaset dan album kala itu, ya karena memang belum ada streaming music service kayak Deezer, Spotify, dan JOOX, pertama ya saya penasaran band seperti apakah The Adams? White Shoes and the Couples Company? Nidji? sampai Burgerkill, yang waktu itu saya baru jadi anak metal?

 

Saya mengulik banyak musik-musik lokal lebih banyak di musik-musik sidestream. Ya, dengerin dan nonton Dewa, Gigi, dan Sheila On 7 juga dong, bahkan Glenn Fredly. Tapi saat itu kalau dengerin musik-musik Indonesia yang mainstream dibilang nggak keren, tapi di sisi lain justru menantang. Ngeliatin temen-temen musisi yang saat itu baru mulai ngeband. Kayak yang saya ikutin seperti Thirteen dan SAR. Kala era-nya Dejavu dan Marotti masih ada, and Spazio on PIM of course.

 

Saat itu saya pikir kalau beli album dan T-Shirt official mereka, saya bisa dibilang gaul dan keren. Tapi malah mendapatkan respect, alias lebih dari itu. Kalau beli apapun yang mereka rilis, justru seakan-akan saya terlibat dalam kehidupan bermusik mereka. Kenapa?

 

Karena ketika lo beli album atau merchandise mereka, lo bakal menambah pundi-pundi penghasilan mereka yang bukan cuma dapet penghasilan dari manggung atau endorsement. Artinya lo dan band yang lo suka atau hargai karyanya, sama-sama maju bareng alias itu band akan jadi temen lo dan lo akan mendapatkan respect dari mereka, karena lo respect kepada mereka. Lo nggak cuma mendengarkan lagunya di YouTube, Spotify, atau Deezer maupun JOOX, tapi lo menghargai lebih dengan memiliki album fisik maupun merch atau juga selalu datang di setiap mereka manggung.

 

What I wanna say is, apa yang saya lakukan dulu dan alami sejak usia remaja alias jaman SMP-SMA, kayaknya nggak kejadian di eranya anak-anak jaman sekarang. Ya, anak-anak SMP-SMA, bahkan kuliah jaman sekarang. Menurut saya mereka ini, yang pada bikin pensi satu-dua tahun belakangan ini, kurang menghargai musik Indonesia. Dengerin aja jarang, apalagi beli!

 

Saya pernah ngobrol sama salah satu panitia pensi SMA swasta terkenal, yang pensinya sebentar lagi bakal digelar. Saya iseng nanya kenapa artis yang manggung si A, si anak itu jawab karena saran temen. Ketika saya tanya mereka dengerin atau nggak, ya tahu aja juga baru tahu apalagi dengerin!


Kemudian saya lanjut ajak ngobrol si anak SMA swasta terkenal itu soal siapa musisi-musisi Indonesia yang lagi mereka dengerin. Cuma sedikit banget. Mereka cuma tahu Raisa dan Isyana, setidaknya demikian. Pas ditanya siapa lagi, mereka agak sulit menjawabnya KARENA NGGAK TAHU DAN KURANG REFERENSI. Belum lagi pas saya tanya apakah mereka punya albumnya dua solois cewek papan atas tadi. Hasilnya? CUMA DENGERIN 1-2 LAGU HITS. Di Spotify album nggak di-save, apalagi beli CD fisiknya. Entah nggak mampu beli atau emang nggak ngehargain. UPS!

 

Mungkin yang epic itu ketika saya ngobrol dengan beberapa anak band, di mana salah satu keluhan mereka adalah BANYAK BANGET FANS YANG MINTA LINK DOWNLOAD. Gila, udah jamannya streaming masih minta link download. Mentalnya mental gratisan banget, dikasih gratis sama Deezer, JOOX, sama Spotify masih minta link download, nggak tahu malu banget. Padahal kalau lo dengerin musik mereka di layanan resmi, lo membantu mereka untuk mendapatkan penghasilan yang bukan cuma dari penghasilan manggung.

 

Menghargai musik Indonesia itu bukan cuma mendengarkan, tapi juga lo kalau bener-bener punya rasa menghormati setidaknya datanglah ke panggung-panggung di mana mereka tampil. Beli album fisiknya atau merchandise resminya, bukan bootleg atau bajakan. Karena itu baru jadi bukti lo menghargai musik yang dibuat musisi-musisi Indonesia, nggak peduli itu Tulus kek, Deadsquad kek, OM PMR kek, semua itu musik Indonesia. 

 

Lo beli tiket acara festival musik yang harganya 500 ribu - 1 jutaan aja mampu, masak beli merchandise band atau musisi lokal yang lo suka dengerin atau lo simpen lagunya di-smartphone nggak mampu? At least beli tiket konsernya nggak minta harga temen atau minta guest list deh! Kalau urusan beli merchandise ya kalau punya duit ya beli. Tapi setidaknya lo nonton lah mereka live kalau sempet atau kalau memang bener-bener fans sejati. Jangan malah download di layanan gak jelas alias nggak resmi.

 

Ah ya, yang jangan sampai kejadian sih adalah udah lo nggak menghargai musik Indonesia, lo malah ngatain musisi-musisinya. Ya lagunya cuma one hit wonder lah, tampang vokalisnya nggak menjual lah, ya musiknya  so last year lah, belum tentu lo dengan ngatain musisi atau nggak menghargai karya musisi-musisi itu lo jadi orang yang lebih baik. Belum tentu juga lo bisa bikin musik yang bagus, apalagi enak didenger orang banyak. Lo sama-sama orang Indonesia, ngapain lo ngatain musisi-musisi Indonesia yang seleranya mungkin beda banget sama selera musik lo yang so Hipbis itu.

 

In the end, ini hanya uneg-uneg saya sebagai penikmat musik dan sekarang terlibat di industri musik Indonesia. Melihat beberapa temen-temen musisi yang mengeluh soal link download sampai kesel sama temen sendiri yang ngatain musisi Indonesia, memang bikin saya akhirnya nulis artikel ini. Saya pikir memang seharusnya ada sebuah solusi di mana para orang-orang yang terlibat di dunia atau industri musik Indonesia, dapat mengedukasi masyarakat Indonesia untuk dapat menghargai karya-karya musisi Indonesia dan juga musisinya sendiri tentu saja.

 

Thank you.

Satria Perdana

Satria Perdana

Hobinya motret mainan, bergaul dengan sejumlah musisi, suka juga mereview film di joypixel.id.
17 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

Merchandise Naif
Merchandise Naif
IDR 160.000
IDR 135.000