Gandeng Tuan Tigabelas, Peraukertas Rilis Single 'Adaptasi atau Mati'

Senin, 31 Agustus 2020, Info Band

Di single terbarunya, Peraukertas merasa perlu sosok seseorang yang dapat membuat lagu ini bisa berlayar dan berlabuh ke telinga pendengar yang lebih luas lagi. Dari beberapa nama teman-teman musisi, jodoh jatuh di Tuan Tigabelas. Pertemuan Peraukertas pertama kali dengan Tuan Tigabelas adalah pada tahun 2018 di suatu panggung dan acara yang sama. Pertemuan itulah yang membuat Peraukertas sangat antusias untuk bisa berkolaborasi dengan Tuan Tigabelas. Sudah beberapa kali ingin menjalankan projek bersama namun belum berjodoh. Kali ini di tahun 2020 melalui “Adaptasi Atau Mati” adalah saat yang tepat Untuk benar-benar terjadi. Lagu ini juga diisi dengan beberapa part fill gitar oleh Bagus Pandu dari Delika dan vokal latar oleh Tj Abdillah mantan personel Softcase.

“Terpaksa berteman dengan keadaan meski terkadang sangat menyebalkan”. Kalimat itulah yang pertama kali terpikirkan oleh Candra dalam membuat benang merah di lagu ini.

“Siapa yang bertahan bisa angkat piala. Berhenti bukanlah opsi, bukan juga negosiasi. Hanya ada satu pilihan. Yaitu Adaptasi Atau Mati. Adaptasi atau kita akan tertinggal. Ya, mau gamau”, saut Hardi yang sudah menyempurnakan lirik di lagu ini.

Komposisi drum cukup berbeda dengan lagu- lagu Peraukertas sebelumnya yang cukup variatif, kali ini diisi dengan cukup simple.

“Drum sengaja gw buat simple, karena liriknya menurut gw juga agak beda dari lagu-lagu sebelumnya. Adaptasi Atau Mati ini dalem banget dan pesannya dapet banget menurut gw, department lirik pun dengan bahasa yang cukup gamblang. Jadi gw gamau mengganggu pesan di liriknya karena isian drum gw yang terlalu ribet”, kata Manjoy.

Candra menambahkan, “Connecting the dotnya adalah pas banget draft lirik jadi, abang bakso yang udah puluhan tahun jualan lewat depan rumah nyokap gw sekarang pake gerobak baru. Terus gw tanya, “baru nih gerobak?”. Dia jawab “sekarang ga hanya bakso, sekarang jualan mie ayam juga. Abisnya pada doyan mie ayam juga, jadi sekarang jualan baso dan mie ayam. Dan alhamdulillah laku mas”. Dalem hati gw wah ini contoh adaptasi atau mati nih hahahaha. Dan gw beli  mie ayam dia, laper cuy haha. Itu adalah salah satu hal yang akhirnya men-trigger lirik di lagu ini”.

Hingga akhirnya Tuan Tigabelas mengisi puisi dan rima yang dia sudah bayangkan konteksnya dari pertama kali dia mendengar lagunya. Diisi tanpa celah namun tepat guna dan pesan yang membara. Setiap bar yang Tuan Tigabelas isi seolah- olah semuanya bermakna, tidak ada satupun yang sia-sia dari tiap kalimat yang dibuat.

Selain konteks judul dan juga ceritanya, lagu ini pun terus beradaptasi dari segi lirik maupun aransemen. Dari konten 1 menit sampai menjadi lagu seutuhnya, dari irama yang slow/medium hingga tensi meninggi dan membara. Sebuah kolaborasi jarak jauh yang sangat mendalam, penuh eksperimen, penyesuaian yang terus beradaptasi serta magis. Itulah yang dirasakan oleh anak-anak Peraukertas. Konsep dasar, judul dan vibes lagu ini terbentuk pada Mei 2020 dan baru saat ini akhirnya jadi dan bisa rilis.

Tanpa kehadiran sosok Tuan Tigabelas, lagu ini tidak akan sampai menjadi seperti sekarang. Sebuah takdir dan jodoh yang sangat magis. Karena sibuknya jadwal Tuan Tigabelas dan juga jarak yang lumayan epik (Bekasi – Jakarta Barat), projek ini dilakukan secara daring. Peraukertas dan Tuan Tigabelas berharap lagu ini bisa berlayar jauh sejauh-jauhnya dan berlabuh di banyak tempat serta memberikan inspirasi bagi orang yang mendengarnya. Memberikan aura positif, semangat, percaya diri dan rasa pantang menyerah walau keadaan dan situasi yang sedang selalu sangat absurd dari era ke era. Adaptasi Atau Mati, beradaptasi atau kita yang tertinggal, berevolusi atau kita yang diam di tempat. Beradaptasi dengan hal-hal dan praktek yang positif.

Adaptasi Atau Mati adalah lagu pertama Peraukertas setelah akhirnya memutuskan hengkang dari labelnya terdahulu. Kini Peraukertas berjalan sendiri dan dengan labelnya sendiri yang bernama “Sweetspot Records Indonesia”, label yang dulu merilis EP dan juga beberapa single Peraukertas terdahulu. Keadaan ini tidak membuat langkah Peraukertas tersendat, justru membuat anak-anak Peraukertas semakin membara untuk bisa berlayar, melaju dan berlabuh sejauh- jauhnya serta konsisten merilis karya kembali di keadaan dan era yang serba absurd ini.

“Berhenti di sini bukan opsi, atau pula negosiasi, hanya ada satu pilihan. Adaptasi Atau Mati”.

Per 28 Agustus 2020, “Adaptasi Atau Mati” sudah tersedia di mana-mana. Selamat beradaptasi.

Fahri Ramadhan

Fahri Ramadhan

Anak baru dengan jiwa lama.
177 kali dibaca
Bagiin ke temen

Upcoming Event

Merchandise

IDR 160.000
IDR 135.000