Lingkungan Mempengaruhi Selera Musik

Jum'at, 10 September 2021, Artikel

Jika kalian bertanya mengenai selera genre musik anak 90an - 2000an dengan selera musik anak 2010 hingga sekarang mungkin sudah sangat berbeda. Itu umumnya disebabkan oleh lingkungan. Walaupun begitu tidak menutup kemungkinan anak yang lahir diatas tahun 2010 an juga mendengarkan musik-musik di era 90an ataupun sebelumnya. Akan tetapi berdasarkan pengalaman saya hal tersebut sangat jarang ditemui. Lingkungan sangat berpengaruh dengan selera musik individu. Sebagai contoh anda nongkrong dengan circle orang-orang yang mendengar lagu pop seperti Justin Bieber, Billie Eilish pasti secara tidak sadar anda akan mendengarkan lagu-lagu tersebut, kemudian anda mulai mengulik lagu sejenisnya. Sama halnya dengan saya sendiri, lingkungan sangat berpengaruh dengan selera musik saya, awalnya saya mulai mengeksplorasi selera musik saya mulai dari genre metal karena saya suka energi yang dihasilkan oleh genre tersebut. Mulai dari situ saya mulai ‘ngulik’ band band metal dan saya akhirnya terpukau dengan band Slipknot. Saat saya masuk SMA saya mulai di racuni oleh band-band asal Seattle US seperti Soundgarden,Pearl Jam, Alice in Chains, dan Stone Temple Pilots.

 

Selera musik anak dari dekade yang lebih tua seperti 90an hingga 2000an kini mulai tergerus zaman. Lantas hal apa yang jadi penyebabnya? Penyebabnya diantaranya adalah pesatnya perkembangan instrumen, maraknya musik pop baru yang terus bermunculan, kemudian ada trend yang melibatkan platform tertentu seperti Tik-tok, instagram dan lainnya.

 

Berbagai platform ini secara tidak langsung ikut mempopulerkan serta mempromosikan musik yang digandrungi anak zaman sekarang. Tetapi dizaman sekarang banyak masalah yang ditimbulkan oleh karena perbedaan selera musik. Saya sendiri sangat menyayangkan orang-orang yang memiliki kebiasaan untuk membanding-bandingkan selera musik individu dengan individu lainya, permasalahanya selera musik individu adalah pilihan masing-masing individu itu sendiri yang seharusnya tidak permasalahkan. Kemudian kebiasaan yang kurang baik lainnya yaitu orang yang sok tau tentang musik padahal sebenarnya tidak tau apa-apa, walaupun sebenarnya ada banyak orang yang pengetahuannya tentang musik lebih daripada mereka. Orang yang sok tau tersebut biasanya disebut ‘poser.

 

Mengutip dari Kompasiana poser sendri “Secara sederhananya istilah tersebut dapat dikatakan sebagai perilaku hanya ikut-ikutan atau berpura-pura menyukai sesuatu tanpa memahami secara mendalam mengenai apa yang ia lakukan maupun atribut apa yang ia pakai”. Semua permasalahan itu sebenarnya wajar terjadi di dunia musik.

 

Akan tetapi sebaiknya kebiasaan tersebut dihilangkan karena pembahasan mengenai musik itu sangat universal, banyak sudut pandang atau perspektif yang berbeda.

 

Ditulis oleh @Jomarodjahan 

Photo oleh Fikri Abdillah

 

Coutinho

Coutinho

Pemain Liverpool yang berbahagia di akhir pekan
110 kali dibaca
Bagiin ke temen

Upcoming Event

Merchandise

IDR 160.000
IDR 135.000