Review Film - Tomb Raider : Sedikit Brutal dan Bakal Bikin Kamu Deg-degan

Senin, 12 Maret 2018, Review

Sejujurnya saya bukan penikmat franchise game action-adventure legendaris Tomb Raider. Namun, film terbaru Lara Croft yang juga merupakan sebuah reboot ini bikin saya jadi ingin memainkan game-game barunya di Playstation 4. Soalnya saya tahu kalu film ini mengambil beberapa inspirasi dari game berjudul sama itu, salah satunya dari looks atau penampilan Lara yang kini diperankan Alicia Vikander.

 

Ketika menonton film Tomb Raider baru saat gelaran press screening di Plaza Senayan XXI, sepanjang film saya bener-bener diajak untuk mengenal lebih dalam soal Lara yang belum jadi sosok yang kita kenal seperti dalam game yang udah berusia lebih dari 20 tahun itu. Apalagi menjadi sosok cewek petualang yang gahar dan cukup dikenang kala diperankan oleh Angelina Jolie awal 2000-an lalu.

 

Dalam film yang kurang lebih berjalan 2 jam ini, saya juga beberapa kali dibikin deg-degan. Aksi-aksi sederhana seperti berusaha melompat dari air terjun ke pesawat ringsek di pinggir sungai aja udah bikin deg-degan. Apalagi aksi berkelahinya di bagian akhir film, yang bikin kamu pengen teriak, "Please don't be weak Lara!".

 

Jadi gini, ceritanya di film ini, di usia 21 tahun, Lara menolak untuk mewarisi bisnis raksasa ayahnya, Lord Richard Croft, dan memilih untuk hidup mandiri sembari bekerja sebagai kurir. Sang ayah sendiri sebenarnya hilang (dan kemungkinan besar udah mati) sejak tujuh tahun sebelumnya.

 

 

Cerita dimulai ketika Lara melewatkan tanda tangan warisan dari sang ayah dan memutuskan untuk pergi berpetualang setelah memecahkan misteri puzzle yang ditinggalkan oleh ayahnya. Puzzle tersebut ternyata membawanya ke ruang kerja rahasia Lord Richard di mana Lara menemukan sebuah pesan dan sisa-sisa penelitan ayahnya soal Himiko dan pulau Yamatai yang misterius di sekitar Jepang. Penelitian sang ayah ternyata berkaitan dengan sebuah organisasi jahat bernama Trinity dan sebuah situs kuno yang disebut Mother of Dead alias si Himiko itu.

 

Di pulau itulah Lara akan berjuang untuk bertahan hidup sambil memecahkan misteris terkait hilangnya sang ayah, Lord Richard. Di sini nih bener-bener bakal jadi awal mula seorang Lara Croft mendapatkan titel yang membuatnya terkenal seantero dunia. Apalagi setelah tahu siapa sebenernya yang bikin sang ayah menghilang selama tujuh tahun!

Salut buat Alicia

Awalnya saya pikir Alicia ini kurang cocok untuk memerankan Lara Croft. Apalagi dari model rambut, kayaknya nggak kurang oke juga apabila ingin mengambil referensi dari game terkini. Akan tetapi lama kelamaan, dalam pengembangannya, Alicia Vikander ini bener-bener jadi the new Lara. Ya, setelah nonton film ini, setidaknya saya jadi suka dengan Lara versi Alicia.

 

Buat saya Alicia, untuk menjadi sosok cewek "rebel" dan ingin hidup mandiri serta lepas dari kemewahan (dia bukan cewek yang suka kemewahan), emosi dan reason-nya tuh dapet banget. Kalau urusan menjadi cewek yang fight dan bener-bener berusaha keras untuk beraksi maksimal, cewek pemegang gelar Academy Award atau Oscar untuk Best Supporting Actress ini patut diberikan standing applause.

 

Aksinya, gerakannya melawan musuh, emosinya, sampai suara desahan saat terluka pun bener-bener terlihat nyata. Kamu bakal ikut merasakan apa yang ia rasakan. Ah ya, dan tentu aja kamu akan berharap kalau ia akan segera menjadi cewek yang kuat seperti Lara Croft yang kita kenal dulu dalam game dan juga film sebelumnya.

Cukup bikin deg-degan

Kamu nggak salah kok bacanya, memang dari awal film ini dimulai, kamu akan dibikin deg-degan sama ulah dan aksi Lara. Begitu pula saat Lara dan rekannya Lu Ren, yang dibintangi Daniel Wu, bertahan hidup di tengah laut yang "mengamuk" saat menuju pulau Yamatai. Di situ kamu bener-bener dibikin deg-degan deh.

 

Di sisi lain, film ini juga sedikit brutal karena kamu akan melihat kejinya Mathias Vogel yang diperankan Walton Goggins, jadi seorang pemburu harta bengis dan nggak segan nembak orang di kepala tanpa sepatah katapun bila ada masalah yang menggangu urusannya.

 

Namun, menurut saya sih ceritanya sedikit kecepetan aja alurnya. Di sisi lain peran Lu Ren di sini sekedar hiasan, bukan supporting character yang cukup berguna dan berfaedah, soalnya screentime-nya nggak begitu lama. Di sisi lain ayah dari Lara, Richard juga nggak punya waktu banyak. Namun perannya cukup penting, mengingat jiwa rela berkorban sebagai ayah besar sekali di sini. Yah, kalau diceritain pasti nggak bakal bikin kamu cukup bersedih sih...

 

Kekurangan yang minor

Menurut saya sih ada beberapa hal yang sedikit nggak logis aja sih di film ini. Mulai dari hilangnya sang ayah yang ternyata faktanya nggak diceritakan dengan jelas seperti apa, sampai gimana ceritanya Lara bisa hafal pulau di mana hutannya cukup lebat dan ia udah cukup jauh menyusuri sungai di tengah film. Agak aneh aja, udah mah nyasar jauh sebenernya, kok tiba-tiba bisa sampai ke tujuan awal lebih cepat. Hutan lho sooobb...

 

Di sisi lain sih humor yang disematkan di film ini sedikit garing juga sih buat saya, nggak tahu kalau kamu. Dan ya balik lagi, peran dari dari Lu Ren di sini seperti orang numpang lewat. Kurang berkontribusi lebih selain mengantar Lara ke pulau Yamatai. But overall sih, filmnya cukup asik ditonton kok guys.

Satria Perdana

Satria Perdana

Hobinya motret mainan, bergaul dengan sejumlah musisi, suka juga mereview film di joypixel.id.
225 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

Merchandise Naif
Merchandise Naif
IDR 160.000
IDR 135.000