Review Game Detroit Become Human - Pengalaman Baru dan Cerita Seru

Rabu, 05 September 2018, Artikel

Game Detroit Become Human sebenernya udah sekitar satu bulan lalu saya mainkan dan tamatkan. Namun baru sekarang kayaknya waktu yang tepat untuk menulis review-nya. Salut banget sama developer Quantic Dream yang bikin game ini bener-bener membekas di hati saya. Soalnya saya bener-bener hanyut banget dalam ceritanya.

 

Gimana nggak hanyut coba, soalnya kita cerita dari tiga karakter yang kita mainkan ini bener-bener ditentukan sama kita sendiri. Tiga android yang kita mainkan ini punya cerita yang masing-masing berbeda, emosi yang berbeda, serta tingkat kesulitan yang juga berbeda satu sama lain.

 

Jadi intinya di game yang hanya dirilis di Playstation 4 ini, para android menuntut untuk kesetaraan dengan manusia. Lewat Jericho, para android percaya kalau mereka dapat merdeka dari manusia. Hah? Merdeka dari manusia? Iya, kamu nggak salah baca kok. Soalnya di game ini kita bener-bener melihat kalau android itu cuma mesin, nggak punya hati, bahkan dibabuin setiap hari sama manusia. Padahal kalau kamu ikutin ceritanya, ternyata perlahan android tuh bisa jadi seperti manusia yang punya emosi.

 

Menariknya, setiap keputusan yang kita ambil tuh bakal mempengaruhi sama cerita ke depannya. Termasuk bagaimana ending dari setiap karakter yang kita mainkan. Satu chapter aja bisa berbeda-beda proses dan ending-nya, apalagi ending benerannya. Antara satu player dengan player lain pasti bisa aja punya perbedaan yang tidak hanya satu, tapi bisa aja dua atau tiga atau lebih perbedaan dalam prosesnya.

 

First impression saya soal game ini ialah visualnya sangat menakjubkan. Emang game banget, tapi visualnya bener-bener manjain mata banget. Bahkan saya sampai baper sama salah satu karakter yang dimainkan, Kara, hahaha… Bener-bener kagum banget sama visual dan ekspresi dari setiap karakternya yang bener-bener hidup.

 

Ah ya, belum lagi dengan android yang menemani kita saat di home menu. Bahkan kalau game kita tamat, kita bisa kasih keputusan ke android tersebut apakah dia bisa stay di home menu atau nggak, alias bisa kita lepasin juga sih.

Lingkungan atau area dalam game ini juga bener-bener berasa hidup. Dalam artian bener-bener seperti nyata. Hidup banget lah visualnya.

 

Yaaa… mungkin emang sayanya aja sih yang gampang baperan atau gampang hanyut sama cerita game, tapi kamu nggak. But seriously, I like its story and it’s really make us into the game. Bener-bener seperti karakter game-nya sih tepatnya. Karena semua keputusan ada di tangan kita dan kita bener-bener dibikin galau dalam setiap pilihan yang harus kita buat.

 

 

Ceritanya bener-bener menyentuh banget, terutama pada karakter Kara, android yang lebih banyak jadi babysitter dan juga maid. Namun, soal Markus juga nggak kalah oke sih. Karena kayaknya karakter android sentralnya memang si Markus, meskipun kayaknya kita lebih terhipnotis ke Connor.

 

Ah ya, cerita Connor juga cukup menarik, karena dia merupakan karakter yang membantu kepolisian dalam meredam “demo” atau “aksi” dari android pimpinan Markus, yang dianggap mengancam keamanan di kota. Terutama mengganggu kehidupan manusia, meskipun nggak semua baik dan lebih banyak menggunakan android sebagai “pembantu”.

Connor bener-bener menyentuh lantaran gambaran kalau android ternyata dapat memiliki hati, seperti manusia itu bener-bener diperlihatkan setiap prosesnya.

 

Kamu bisa baca review lengkapnya di halaman JoyPixel.id yang dapat kamu klik di sini.

Satria Perdana

Satria Perdana

Hobinya motret mainan, bergaul dengan sejumlah musisi, suka juga mereview film di joypixel.id.
28 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

Merchandise Naif
Merchandise Naif
IDR 160.000
IDR 135.000