Review Gundala : Akhirnya Superhero Indonesia "Bernafas" Lagi

Sabtu, 31 Agustus 2019, Review

Film Gundala memang mencuri perhatian masyarakat Indonesia saat ini. Saat membayangkan berbagai hal tentang superhero, hal yang mungkin hampir ada di benak banyak orang adalah karakter-karakter dari komik Marvel, maupun DC. Pun, ketika banyak perusahaan komik lain membuat karakter superherokemudian hadir dalam dunia sinema, kerap kita membanding-bandingkan dengan dua legenda produksi karakter superhero itu.

 

Tidak terlepas dengan film Gundala, superhero asal Indonesia buatan komikus Harya “Hasmi” Suraminata yang filmnya digarap oleh sineas kenamaan Joko Anwar. Ia membuat kejutan dengan memperkenalkan sebuah dunia baru dalam perfilman superhero di Indonesia: BumiLangit Cinematic Universe. Keren kan? Dari namanya pun mungkin membuat kamu langsung membanding-bandingkan dengan produksi film dari Hollywood.
 

Mula-mula kamu dikejutkan dengan aktor dan aktris top tier yang mengisi BumiLangit Cinematic Universe yang ramai di dunia maya, belum lagi produksi film ini pun terbilang sangat niat, bahkan dari segi pendanaan, sponsor, dan media yang terlibat membuat ekspetasi banyak orang tinggi terhadap film manusia listrik ini. Dari sini, Joko Anwar sudah membuat hype yang sangat baik. Belum lagi, Gundala menjadi film Indonesia pertama yang didukung oleh teknologi suara Dolby Atmos! Keren banget, kan?

 

Film ini menceritakan perjalanan Sancaka kecil (Muzzaki Ramdhan), seorang anak kecil yang tinggal bersama ayah (Rio Dewanto), dan ibunya (Marissa Anita) di daerah suburban, hingga  menjadi seseorang yang memilki kemampuan super listrik. Dalam perjalanannya, Sancaka besar (Abimana Aryasatya) bertemu dengan Wulan / Merpati (Tara Basro) yang membuatnya melawan preman pasar hingga bertemu orang di baliknya, Pengkor (Bront Palarae) beserta asistennya Ghazul (Aryo Bayu).

 

Pembukaan pada film ini mengingatkan penulis akan film-film produksi Marvel. Hal ini langsung terlintas ketika melihat bumper awal BumiLangit Cinematic Universe yang menampilkan tokoh-tokoh superheroserta pembawaan tone yang ala Marvel. Desain karakternya pun sekilas mengingatkan akan karakter The Flash dari DC.

 

Tentu ada hal-hal pada film ini yang membedakan dari komik aslinya, maupun filmnya yang hadir di tahun 1981. Well, namanya juga adaptasi. Meski ada beberapa bagian dari film ini yang membuat referensi dan penghormatan kepada komik aslinya, sang sineas kemudian menambahkan semacam skena ‘what if’s’ yang menjadi plot utama film. Kalau di komiknya, sang tokoh utama Sancaka bekerja sebagai ilmuwan dan insinyur, di film adaptasi ini ia menjadi seorang…… Tonton saja sendiri! Takut spoiler hehehe.

 

Soal tone, sinematografi, reasoning dalam cerita, kemampuan Joko Anwar nggak usah ditanya lagi, deh. Semuanya dilibas dengan baik oleh sang sineas dengan bantuan Ical Tanjung sebagai seorang sinematografer. Namun bukan berarti film ini nggak ada kekurangan sama sekali.

 

Kekurangan utama dalam film ini adalah CGI yang masih kelihatan kaku, kurang smooth, dan kurang natural. Namun, untuk ukuran film Indonesia oke lah, meskipun tiga poin tersebut memang cukup mengganjal. Tapi jangan bandingkan dengan Marvel atau DC juga ya. Ada tiga bagian yang sangat penulis perhatikan saat menonton premiere-nya. Hal yang paling penulis lihat adalah adegan berantemnya, serta saat Gundala akhirnya memiliki kekuatan petirnya.

 

Baca review lengkapnya di JoyPixel.id ya guys!

Satria Perdana

Satria Perdana

Hobinya motret mainan, bergaul dengan sejumlah musisi, suka juga mereview film di joypixel.id.
121 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

IDR 160.000
IDR 135.000