Review Hold Your Breath - Film Bencana Kebanyakan Drama

Jum'at, 29 Juni 2018, Artikel

Film Hold Your Breath garapan Daniel Roby ini sukses membuat saya terkesima dan ikut dibuat "menahan nafas" selama kurang lebih 89 menit. Film bergenre sci-fi ini jika dilihat dari posternya, akan berasumsi bahwa Hold Your Breath merupakan film bencana alam yang spektakuler macam 2012. Namun kenyataannya nggak demikian. Film tersebut lebih banyak mengangkat permasalahan keluarga yang cukup pelik dan penuh drama, bencana alam pun cuma sebagai bagian dari formula cerita di film ini.

 

Film asal Paris dengan judul asli Dans La Brume ini diperankan oleh Romain Duris (Mathieu), Olga Kurylenko (Anna), dan Fantine Harduin (Sarah). Kehidupan mereka berjalan mulus ketika Mathieu hendak mendarat di Paris dan mengabarkan pada Anna yang juga mantan istrinya, kalau ia baru saja menemukan prototype yang dapat membantu kelangsungan hidup anaknya, Sarah.

 

Namanya orang tua, nggak mau anak semata wayangnya kenapa-kenapa. Segala macam upaya dilakukan hanya untuk melihat anaknya bertahan hidup. Dalam film tersebut diperlihatkan bagaimana Sarah tinggal disebuah ruang gelembung, karena mengidap gangguan imunodefisiensi, yakni kondisi tubuh dengan sistem imun yang lemah.

 

Nggak ada yang baik-baik aja ketika harus mengalami kebiasaan yang nggak pada umumnya. Seperti yang dialami oleh Mathieu dan Sarah, untuk bisa berkomunikasi mereka harus dibatasi oleh dinding kaca ruang gelembung, selama 12 tahun! Nggak ada yang namanya pelukan, hanya telapak tangan bertemu dengan telapak tangan dengan dinding kaca sebagai batasan.

 

Pun juga ketika Mathieu ataupun sang Ibu, Anna ingin memberi perbekalan untuk Sarah harus melalui sebuah kotak kecil di sudut kanan ruangan, semacam loket jual beli di pegadaian, di mana ruang untuk menjulurkan tangan hanya seukuran pergelangan tangan. Jika mereka di tempat yang berjauhan, telepon genggam bukanlah sebuah solusi, melainkan walkie talkie.

 

Meski terlihat aman-aman aja, tampaknya semesta nggak mengizinkan Mathieu untuk bernafas lebih lega. Sesaat setelah menghampiri Sarah di ruang gelembungnya yang berada di apartment Anna, ia kembali ke apartmennya yang hanya selangkah dari tempat menjenguk Sarah.

 

 

Seperti yang dapat disaksikan di trailer-nya, ia merasakan gemuruh cukup kuat yang menjatuhkan beberapa peralatan dapur di ruang apartmennya, kabut asap pun datang menerjang bagai tsunami. Tentu saja Sarah, sebagai anak yang tinggal sendirian dalam ruang gelembung, merasa khawatir dengan apa yang terjadi.

 

Drama semakin menjadi ketika asap misterius itu naik menutupi hampir seluruh perumahan warga setempat. Sebagai manusia biasa, menghirup asap yang berasal dari bawah tanah udah pasti "auto mati" beberapa detik kemudian. Namun perjuangan Mathieu dan Anna terus berlanjut, hingga numpang hidup sementara di kamar milik pasangan lansia, Lucien (Michel Rubin) dan Collete (Anna Gaylor).

 

Semua mesin mati ketika asap melanda Paris, sementara Sarah kebingungan karena kehidupannya bergantung pada baterai genset yang tersisa jika semua mesin mati. Sebab ruang gelembungnya perlu aliran listrik yang mumpuni untuk memperpanjang masa hidup Sarah.

 

Kamu bisa baca review selengkapnya di kanal JoyPixel.id yang bisa kamu klik di sini ya guys!

Satria Perdana

Satria Perdana

Hobinya motret mainan, bergaul dengan sejumlah musisi, suka juga mereview film di joypixel.id.
51 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

Merchandise Naif
Merchandise Naif
IDR 160.000
IDR 135.000