REVIVAL 7, SMAN 81 JAKARTA

Selasa, 13 Januari 2015, Review

revival 7 Mesin scooter gue masih terasa panas saat tulisan ini gue tulis, sekedar jalan-jalan ke Puncak untuk melihat Sunrise dari celah-celah jendela warung khas di Cisarua dan melihat dari kejauhan gelapnya Gunung Salak bersama teman gue yang bernama Lucky, pemain skateboard yang berbakat dari desa Muncul, akhir pekan kali ini terasa dingin. Di sepanjang jalan pergi dan pulang, entah berapa banyak kelompok motor Jepang yang memberikan semacam kode berupa ibu jari saat berpapasan, yang sangat arogan dijalan, seperti para pejabat yang hendak mengejar waktu meeting yang memblokade jalan protokol dari Thamrin hingga Sudirman. Dengan suara knalpot yang cempreng memecahkan jalan puncak yang gelap dan dingin menjadi seperti balap liar khas Kebun Nanas dan dengan asap putih yang dihasilkan dari oli samping murahan, mereduksi udara segar kebun teh menjadi udara khas kawasan industri di Karawang. Kesal. Di jalan pulang, gue teringat akan janji gue kepada Nocturn untuk menyempurnakan tulisannya yang memang tidak akan bisa sempurna, karena sejatinya kami memang dilahirkan bukan untuk menulis, tapi siapa tahu dari menulis kami bisa tetap hidup. 1 November 2014, seperti yang kita tahu bahwa ada setidaknya 3 pensi yang cukup menarik perhatian dan Revival SMAN 81 Jakarta salah satunya. Berangkat dari sekolah di Timur Jakarta, mereka mengadu nasib ke Tennis Indoor Senayan bersama rombongan Angger Dimas, Midnight Quickie, HiVi, dan Neurotic. Untuk Revival kali ini yang ke-7 mereka mengambil tagline “plug into love” yang sangat electrolove, yang bisa diraba daripada komponen garis utamanya, 2 ikon dari genre electro music didampingi HiVi yang saat ini menjadi idola anak-anak remaja serta pendatang baru Neurotic, yang baru saja beberapa bulan lalu melahirkan album pertamanya melalui proses persalinan yang normal. Dipandu oleh 2 orang pembawa acara yang mirip dengan guru bimbingan konseling di sekolah gue dulu, yang menggiring acara manjadi hidup dengan lawakan mereka yang nongkrongable, konyol, bocor, dan bodor, Gofar Hilman adalah kepastian dan Iben Margonzetd menjadi alasan. Mereka berdua mempersilahkan untuk Neurotic yang sepertinya sedikit telat karena mereka terjebak di dalam misteri kemacetan di Jakarta yang sampai saat ini belum terpecahkan, hanya membawakan beberapa lagu dari album “Lets get weird” cukup untuk membuka penampil utama malam itu. Setelahnya, saatnya bercinta dengan HiVi lewat nomer-nomer galau “Orang ke 3”, “Mata ke hati” , “indahnya dirimu” dan “curi curi” berhasil menghibur ribuan remaja di Tennis Indoor malam itu dan menjadi saksi nyata jikalau HiVi saat ini sudah beranjak dewasa. Electrolove sejatinya tidak akan terwujud tanpa unsur electro itu sendiri, lewat Midnight Quickie dan jargonnya selama ini “Being Bad Feels Good” yang juga merupakan judul album mereka sukses menyulap ekspresi para pengunjung yang rata-rata depresi terhadap padatnya jadwal menuntut ilmu dari Senin-Jumat, bimbingan belajar ataupun pendalaman materi di Sekolah. Berbagai macam remix dari musisi internasional disajikan Midnight Quickie yang pada malam itu menjadi "Duo" karena hanya menyisakan Jaya & Irsan di belakang meja pacu, mereka membawa crowd menjadi liar seakan menjadi takdir bahwa musik elektro memang sedang dikagumi oleh pelajar-pelajar Jakarta dan menjadi alasan mengapa sekarang banyak bermunculan DJ-DJ sebagai pengisi acara Pensi, diantaranya ada yang bagus dan tidak sedikit pula yang buruk. Di tengah-tengah acara kami bercerita bersama panitia Revival, dari seorang Destri Zida yang kami sudah kenal kurang lebih 2 tahun, Denisa Nuragusti yang cantik, yang selalu menjadi godaan Gofar Hilman, Inton Kurniawan sang ketua acara, Emilio Rizki yang berlebihan “Kurang-kurangin mil”, Kapan kita bisa bertemu lagi bersama yang lain?. Malam itu Angger Dimas menjadi pamungkas, DJ yang sudah banyak diundang di berbagai festival musik international dan menjadi pujaan banyak orang menjadikan Revival sepertinya bukanlah pensi, mungkin semacam DWP (Delapansatu Warehouse Project ) Ia menjadikan crowd yang sudah sedikit lelah menjadi sedikit lebih hidup, walaupun kami tidak secara langsung mengenal Angger Dimas, tapi kalau kami boleh memiliki kesempatan untuk berkenalan, akan kami traktir ia secangkir teh panas walaupun kami tahu mungkin dia tidak suka teh panas. Terima Kasih panitia-panitia Revival 7 atas kerjasamanya bersama InfoPensi, acara kalian sangatlah keren! -- Coutinho dan Nocturn ditemani 2 Vietnam Coffee
Adminymous

Adminymous

Disitu ada pensi, disitu pasti ada kita.
2178 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

T-Shirt Murder Miles Throat
T-Shirt Murder Miles Throat
IDR 160.000
IDR 135.000