TigaBelas TonBesi

Jum'at, 29 Maret 2019, Profile Band

sebuah cerita tentang Tigabelas Tonbesi Don’t judge a book by its cover, suatu kutipan yang klise namun sangat tepat untuk menggambarkan latar belakang dari Tigabelas Tonbesi, band yang berasal dari Jakarta Selatan.

 

Semua personilnya adalah pekerja kantoran yang sehari-hari berpakaian layaknya seorang eksekutif, lengkap dengan jas, dasi dan kacamata. Bahkan beberapa personilnya menempati posisi cukup penting dikantor mereka. Namun sepulang kerja, atribut ini berganti dengan jaket tracker, t-shirt band, bandana, boots dan attitude yang liar.

 

Tigabelas Tonbesi. Namanya terkesan berat namun memiliki filosofi yang dalam. Banyak intrepetasi untuk Tigabelas (13), angka yang penuh mitos. Dianggap membawa sial sejak jaman Kaballah, namun tidak sedikit yang beranggapan sebaliknya.Besi bersifat solid dan kuat, namun apabila tidak dirawat akan berkarat dimakan waktu. Sama seperti manusia, kalau tidak berkembang akan mati tergilas zaman. Tigabelas Tonbesi memiliki huruf awal yang sama, menggambarkan dua sifat ekstrim yang ada dalam diri manusia, baik dan buruk.

 

Tergantung dari pribadi seorang manusia, jalan mana yang akan dia pilih. Proses kelahiran Tigabelas Tonbesi dimulai dari kegelisahan sang vokalis dan gitaris, Hari Suseno, untuk kembali ke dunia musik setelah beberapa lama vakum semenjak bandnya bubar ditahun 2005. Pada tahun 2017, Hari dipertemukan dengan Mozart, Putri (Traxap) dan Ami yang punya keinginan yang sama untuk berekspresi liar setelah jenuh bergumul dengan dunia korporat setiap hari.

 

Pada tanggal 26 November 2017 Tigabelas Tonbesi pun lahir dengan formasi: Hari – vokal, gitar, Putri – bass, vocal, Ami – gitar dan Mozart – drum Formasi awal ini tidak bertahan lama.

 

Mozart sang penabuh drum memututskan untuk berkarir diluar pulau. Posisi drummer pun akhirnya di isi oleh Miko (Deadpits). Formasi Tigabelas Tonbesi hingga saat ini adalah sebagai berikut: Hari – vokal, gitar Putri – bass, vokal Ami – gitar Miko – drum Menyatukan beberapa individu untuk menjadi sebuah band yang mumpuni adalah bukan perkara yang mudah.

 

Walaupun berlandaskan rock, masing-masing personil Tigabelas Tonbesi memiliki latar belakang dan gaya bermain musik yang berbeda-beda. Hari Suseno dengan beberapa bandnya terdahulu memiliki range musik yang cukup luas.

 

Cabikan bass Putri berwarna rock alternatives, dan siapa tak kenal Traxap, bandnya dulu yang sangat bersuara pada dekade akhir 90 dan 2000-an. Gebukan drum Miko keras dan buas, total hardcore! Bercampur dengan petikan gitar kental rasa heavy metal dari Ami.

 

Dalam bermusik mereka pun banyak dipengaruhi oleh banyak musisi dan band, seperti Coal Chambers, Suicidal Tendencies, Smashing Pumpkins, Anthrax, Megadeth, Nails dan Pantera. Selain ini mereka juga cukup terpengaruh dengan Ride, My Bloody Valentine, Sonic Youth, Beastie Boys bahkan dengan RUN DMC Seiring berjalannya waktu, Tigabelas Tonbesi meminta bantuan Bampak untuk menjadi produser di album pertama. Bampak adalah seorang musisi yang pernah menakhodai The Miskins, sebuah band yang sangat dikenal oleh kalangan pecinta musik rock dan metal tanah air pada dekade 2000-an. Bekerjasama dengan Bampak, Tigabelas Tonbesi melebur gaya permainan masing-masing personilnya untuk untuk menciptakan aransemen-aransemen seimbang dan harmonis yang menciptakan alunan music ganas nan indah.

 

Ya, Tigabelas Tonbesi menyajikan keindahan dalam musik berdistorsi. Genre mereka adalah DISTORSI KORPORASI, sebuah genre musik rock/metal yang tidak hanya berirama kencang, namun juga enak didengar. Distorsi Korporasi adalah sebuah elemen yang sangat melekat dikehidupan para personil Tigabelas Tonbesi. Sebuah filosofi hidup manusia yang bekerja mengais rejeki di dunia korporat namun memiliki hasrat kuat untuk mengekspresikan diri dalam musik. Pada bulan September 2018, bertempat di Venom studio, Jakarta, Tigabelas Tonbesi berhasil merekam 5 buah single berbahaya berirama catchy, ganas, namun harmonis sehingga dapat memanjakan siapapun yang mendengarkan.

 

Menyuarakan tentang perjalanan kehidupan, hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Sang Pencipta. Kelima lagu tersebut ditulis oleh Hari Suseno dan diaransemen bersama dengan Bampak, sang produser. Proses Mixing untuk EP pertama mereka telah diselesaikan dengan sempurna oleh Jones Roma (@jonesroma), seorang sound engineer apik yang turut andil dalam remixed lagu U2 “Red Hill Mining Song” bersama Steve Lillywhite ditahun 2017 lalu. Dari 5 track lagu tersebut, akan ada 2 lagu mereka yang akan di remix. Satu track oleh DJ @indra7. Dan satu track lagi oleh Agrikulture.

 

Logo mereka pun kini sedang dikerjakan oleh Anggareza Aditya (@anggarez) yang karya?karyanya sudah terkenal dan banyak digunakan oleh musisi heavy metal dan rock baik dalam maupun luar negeri, seperti Seringai, Deadsquad dan Kandarivas, sebuah band asal Jepang. Dan rencananya seluruh artwork untuk EP pun akan dikerjakan olehnya. Selanjutnya akhir Februari 2019 nanti Mastering untuk EP mereka akan dikerjakan oleh James Plotkin (@plotkinworks) di Amerika Serikat.

 

Seorang audio engineer, musisi dan produser, nama yang tidak asing dikalangan musisi Amerika Serikat dan Eropa. Untuk musisi lokal, KOIL adalah band yang pernah bekerjasama dengan James Plotkin di album MEGALOBLAST versi piringan hitam. Mendengarkan Tigabelas Tonbesi akan seperti berkelana di alam liar nan indah, seperti berkelahi namun sambil tersenyum.

 

Tigabelas Tonbesi akan berkumandang ke seluruh penjuru dunia mengajak kita berpesta bersama segera!

 

Business Contact: Arissuno: +6281809700000

 

Email : tigabelastonbesi@gmail.com Band Pages: https://www.instagram.com/tigabelastonbesi/ https://www.facebook.com/tigabelastonbesi/ https://soundcloud.com/tigabelastonbesi

Nocturn

Nocturn

Salah satu owner infopensi yang punya motto : "Brutal tapi takwa"
100 kali dibaca
Bagiin ke temen

Merchandise

IDR 160.000
IDR 135.000