Wawancara bersama Owner Saka Kitchen

Selasa, 30 Juni 2020, Review

Bisnis Food and Beverage atau biasa disingkat FnB semakin marak dan populer di Indonesia, terutama di kota – kota besar. Cafe dan resto dengan konsep yang unik semakin banyak bermunculan, dengan sebagian besar menargetkan anak muda sebagai konsumen utamanya, Tidak jarang banyak cafe dan resto yang meraih kesuksesannya berkat bantuan tidak hanya konsep mereka yang menarik namun juga didukung dengan semakin umumnya penggunaan sosial media di kalangan konsumen mereka yaitu anak – anak muda, sehingga cafe dan resto ini pun mendapatkan kepopulerannya.

Membahas tentang bisnis FnB, kali ini kami berkesempatan berbincang bersama Timothy Ryan Gilbert salah satu owner dari Saka Kitchen.

Boleh tau ga nih, nama restoran apa? Ada filosofinya ga dibalik penamaan tempat itu?

Jadi, nama restorannya Saka kitchen. Gue ngambil kata Saka sendiri dari bahasa Jepang yang artinya semacam naik terus. Kebetulan juga Saka sendiri berada di lantai 2 Adara Coffee, jadi kalau kesana harus naik dulu. Ya, akhirnya cocok banget lah dengan nama itu.

Usaha restoran ini didirikan oleh Anda sendiri atau secara kolektif?

Untuk usaha restoran ini sendiri gue bangun secara kolektif, bersama dua teman gue yang semuanya ketemu dari kampus.

Kira-kira untuk membangun usaha seperti ini modal awalnya kisaran berapa sih?

Jadi gue ceritain dulu kali ya konsepnya. Gue bikin konsep penginnya depannya kaca, jadi bisa ngeliat keluar. Awalnya gue nyari ruko tuh susah banget yang bisa direnovasi sesuai konsep gue. Akhirnya teman gue yang di Adara Coffee ini nawarin untuk gue bikin Saka Kitchen di lantai atasnya, karena saat itu masih kosong belum ada apa-apa. Terus gue mikir ini cocok banget buat wujudin konsep gue. Apalagi ini restoran pertama, ya gue penginnya yang sesuai sama konsep gue. Saka Kitchen juga konsepnya open kitchen, karena itu open kitchen jadi ada beberapa hal yang harus dibeli peralatan tambahan dibanding dengan konsep kitchen yang tertutup. Jadi kisaran modalnya di atas 200juta.

Kisaran harga menu di Saka Kitchen di range berapa?

Untuk kisaran harga snack 25ribu-an, untuk rice bowl mulai dari 37ribu sampai 55ribu.

Untuk target pasarnya sendiri, lebih ngincer konsumen yang seperti apa?

Target konsumennya sih lebih ke anak muda ya. Makanan yang ditawarkan juga kebanyakan yang diminatin anak muda. Terus untuk orang-orang yang baru kerja yang tempat kerjanya kebanyakan di Jakarta ketika weekend mereka pengin makan-makanan Japanese fusion gitu yang rumahnya di Tangerang Selatan atau sekitaran BSD itu juga masuk ke target konsumen kita sih.

Menurut Anda, bagaimana strategi awal yang paling tepat untuk membangun suatu usaha?

Menurut gue suatu usaha harus berangkat dari konsep. Konsepnya harus matang banget. Setelah konsepnya matang itu harus dicocokin sama market­-nya. Karena percuma kalau market-nya nggak cocok lo mau buat konsepnya sebagus apapun akan susah. Terus dari konsep itu harus dihitung juga realisasi modelnya gimana, karena misalnya kalau di tengah jalan modalnya over itu bisa menjadi suatu masalah.

Keunikan apa yang Anda suguhkan di restoran yang ada miliki?

Pertama mungkin dari makanannya sendiri ya. Seperti yang gue bilang tadi, di Tangerang Selatan belum banyak restoran yang menyuguhkan konsep Japanese fusion. Kedua, konsep Saka Kitchen sendiri yang open kitchen. Jadi, gue menyuguhkan suasan restoran yang berbeda sih.

Kenapa Anda lebih memilih untuk membangun bisnis restoran ketimbang membangun bisnis kopi?

Mungkin bisnis coffee shop benar-benar menarik sih apalagi di kalangan anak muda hampir semua punya goals bikin kafe. Cuma, menurut gue itu udah terlalu banyak banget dan susah banget bersaingnya sama yang udah punya nama.

Keinginan membuat usaha seperti ini berawal dari mana? Apakah ada yang mempengaruhi Anda untuk menjalankan bisnis ini?

Awalnya gue tertarik banget di dunia food and beverage khususnya bagian food-nya. Karena orang tua gue punya saham restoran di daerah Jakarta, terus gue memandang hal itu suatu hal yang keren. Jadi berangkat dari situ sih.

Ada ga sih kiat-kiat khusus dari Anda untuk anak muda sekarang yang ingin membangun bisnis juga?

Menurut gue dengan berbisnis, pikiran lo jadi terbuka banget sih. Lo belajar mulai dari awal sampai akhir gimana cara men-develop­-nya. Paling penting masalah konsep dan finance management sih yang harus dikuasi sebagai modal awal dalam berbisnis.

Ada ga sih “quotes” yang Anda pegang selama ini?

Hmm apa ya, paling yang gue pegang sampai saat ini “usaha tidak akan mengkhianati hasil” itu sih menurut gue hahaha. Tapi, usaha gabisa asal-asal, lo harus mikir juga, harus pinter.

Instagram: @sakakitchen.id

                  @timothyrg

Fahri Ramadhan

Fahri Ramadhan

Anak baru dengan jiwa lama.
1281 kali dibaca
Bagiin ke temen